Friday, 20 May 2011

Serangan Perangkat Audio Murah Dari Cina

Sementara kalangan prefesional audio kita begitu tertarik dengan tren Line Array, beberapa produk Cina justru makin mengokohkan posisinya di belantara nusantara. Terlepas apakah perangkat pro audio berlabel made in Cina itu Line Array atau Spherical Array. Powernya yang analog atau digital, yang jelas, kian hari beberapa produk profesional audio buatan negeri tetangga itu kian mendapat pengakuan dari praktisi pro audio Indonesia yang awalnya hampir selalu brand minded (lebih memilih merek terkenal, red).





Ada banyak perangkat pro audio mobil murah dari Cina yang beredar di Indonesia. Sebut saja beberapa diantaranya, seperti Biema, V-Sound, Heritage, Zomax, dan beberapa lagi lainnya.  Sedikit dari sekian banyak merek perangkat pro audio buatan Cina yang cukup banyak dibicarakan adalah Tasso. A-Pro pertama kali mendengar nama ini sekitar 2 tahun lalu.

Temukan info lebih lengkap seputar audio mobil murah

Manfaat Tanaman Obat Keluarga Di Rumah


Tanaman obat keluarga (disingkat TOGA) adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat jamu herbal. Taman obat keluarga pada hakekatnya adalah sebidang tanah, baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan.





Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Budidaya tanaman obat untuk keluarga (TOGA) dapat memacu usaha kecil dan menengah di bidang obat-obatan herbal sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya. Sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga.

Pemanfaatan Tanaman Obat (TOGA)
Pemanfaatan TOGA yang digunakan untuk pengobatan gangguan kesehatan keluarga menurut gejala umum adalah:

* Demam panas
* Batuk
* Sakit perut
* Gatal-gatal
* Luka berdarah

Temukan info lebih lengkap seputar jamu herbal

Teh Rosella Yang Bermanfaat Sekaligus Berkhasiat


Kelopak bunga Rosela dapat diambil sebagai bahan minuman segar berupa irup dan teh rosella, selai dan minuman, terutama dari tanaman yang berkelopak bunga tebal, yaitu Rosela Merah. Kelopak bunga tersebut mengandung vitamin C, vitamin A, dan asam amino. Asam amino yang diperlukan tubuh, 18 diantaranya terdapat dalam kelopak bunga Rosela, termasuk arginin dan legnin yang berperan dalam proses peremajaan sel tubuh. Selain itu, Rosela juga mengandung protein dan kalsium.





Pohon Roselle tumbuh dari biji/benih dengan ketinggian yang bisa mencapai 3 – 5 meter serta mengeluarkan bunga hampir sepanjang tahun. Bunga Roselle berwarna cerah, Kelopak bunga atau kaliksnya berwarna merah gelap dan lebih tebal jika dibandingkan dengan bunga raya/sepatu. Bagian bunga Roselle yang bisa diproses menjadi makanan ialah kelopak bunganya (kaliks) yang mempunyai rasa yang amat masam. Kelopak bunga ini bisa diproses menjadi pelbagai jenis makanan seperti minuman, jelly, saos, serbuk (teh ) atau manisan Roselle. Daun muda Roselle bisa juga dimakan sebagai ulam atau salad. Sementara itu di Afrika, biji Roselle dimakan karena dipercaya mengandung minyak tertentu. Di Sudan, Roselle diproses menjadi minuman tradisional yang dinamakan Karkadeh dan merupakan minuman kebangsaan orang Sudan.

Tumbuhan herba ini ternyata mampu berfungsi sebagai bahan antiseptik, penambah syahwat, agen astringen. Tanaman ini juga banyak digunakan dalam pengobatan tradisional seperti batuk, ketidakhadaman, lesu, demam, tekanan perasaan, gusi berdarah (skurvi) dan mencegah penyakit hati. Bunga Roselle banyak digunakan untuk pembuatan jus, saos, sirup dan juga sebagai bahan pewarna pada makanan.

Ekstrak daripada kuncup bunganya ternyata mampu berfungsi sebagai antispasmodik (penahan kekejangan), antihelmintik (anti cacing) dan antibakteria. Selain itu rosella ternyata mampu menurunkan kadar penyerapan alkohol. Daun tumbuhan herba ini juga bisa digunakan untuk merawat luka, penyakit kulit dan gigitan serangga.

Temukan info lebih lengkap seputar teh rosella

Para Pengerajin Gong Yang Kian Tergerus Jaman


Pengrajin gong di Bogor, Jawa Barat, mencoba terus bertahan meski peminat alat musik tradisional itu sudah sangat berkurang.Menjaga usaha yang turun-temurun dan melestarikan budaya merupakan alasan utama pengrajin di Jl. Pancasan, Kota Bogor, itu terus berproduksi.




"Kami tetap memproduksi walaupun tidak ada pesanan, nantinya gong ini akan disimpan, siapa tahu saja ada yang datang dan membelinya," kata pemilik kerajinan gong, Nasukarna (81). Sebagaimana pengrajin lain, usaha kerajinan gong Nasukarna ini juga warisan leluhurnya dan ia merupakan generasi keenam yang meneruskan usaha kerajinan tangan itu 

"Kebanyakan pesanan datangnya dari musisi gambang kromong diantaranya dari Jakarta. Kini peminat kesenian tradisional gong sudah mulai menurun karena penikmat musik gambang kromong sudah mulai berkurang dan itu berimbas terhadap penjualan kami," kata dia.

Harga satu set gong untuk kesenian gambang kromong dipatok sebesar Rp19 juta, sedangkan untuk Degung harga satu set mencapai Rp25 juta. Sedangkan harga per buahnya bervariasi yaitu berkisar antara Rp1,8 juta hingga Rp3 juta tergantung dari diameter gong tersebut. Harga gong berdiameter 45 cm sebesar Rp 1,8 juta dan gong berukuran 75 cm dihargai Rp3 juta.

Selain itu adapula harga satu set alat yang bisa bernilai ratusan juta yaitu Gamelan Jawa dan Gamelan Bali."Yang paling mahal itu harga gamelan Jawa yang mencapai Rp200 juta, sedangkan gamelan Bali Rp120 juta," lanjutnya

Temukan info lebih lengkap seputar kerajinan tangan

Kerajinan Dari Debu Yang Fantastis



Agak aneh memang kalo orang memikirkan menggunakan debu sebagai bahan untuk membuat benda karya seni. Paul Hazelton mengumpulkan debu dan membentuknya menjadi karya seni yang hebat.





Seniman asal Inggris ini mengatakan ketertarikannya pada debu berawal dari aktivitasnya yang senantiasa harus berada di lingkungan yang bersih, bebas dari debu. Suatu saat dia membersihkan debu pada permukaan sebuah topeng dan mulai menyadari bahwa dengan debu itu bisa dibuat sesuatu.

Paul bekerja dibantu dengan peralatan rumah tangga biasa, dan menemukan debu-debu buruannya pada furnitur, lukisan dinding, foto-foto, tetapi tidak pernah menggunakan vacuum cleaner. Dia mengumpulkan dan menyimpan dulu debu-debu "terbaik"-nya hingga dia mulai membentuk sesuatu darinya. Lalu dia membasahinya dengan sedikit air untuk membentuk sesuatu yang diinginkannya dan dengan hati-hati mengeringkannya kembali.

Prosesnya memang tidak mudah, tapi seniman berusia 43 tahun ini mencintai pekerjaanya.

Temukan info lebih lengkap seputar karya seni